Fatwa Guru Mursyid

Haul Guru ke-17 tahun 2019

HUKUM YANG BERKEADILAN

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

            Marilah kita mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas karunia dan hidayahNya kita diberi kesehatan, kecerdasan berpikir dan kehidupan yang tenang. Kemudian kita sampaikan shalawat dan salam keharibaan junjungan kita yang khalis mukhlisin Arwahul Muqaddasah Nabi Besar Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, semoga kita mendapat syafaatnya di yaumil akhir nanti.

            Salam ta’jim yang berkepanjangan kita sampaikan pula kepada Ahli silsilah Thariqatullah Thariqat Naqsyabandiyah serta Guru-guru yang Mursyid, yang telah menuntun kita menjadi Insan yang kuat dan padat tauhidnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang akhirnya kita dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.

Para Undangan dan jamaah yang mulia dan dimuliakan Allah,

            Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ibu para undangan yang berkenan hadir atas undangan kami untuk memperingati Haul Guru Al-Mukarrom Saidi Syekh H. Amir Damsar Syarif Alam yang ke-17 tahun 2019. Beliau adalah Pendiri sekaligus Guru Besar Thariqat Naqsyabandiyah Jabal Qubis Tanjung Morawa silsilah ke-35.

            Sebelum melanjutkan sambutan dan fatwa, seperti biasa saya mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 8, yang artinya :

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Bapak dan Ibu yang dimuliakan Allah,

Rakyat Indonesia yang menganut beragam agama sesuai dengan UUD’45, sudah tentu Ketenteraman dan kedamaian dalam hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara adalah harapan kita semua, harapan rakyat Indonesia. Ketenteraman dan kedamaian secara umum berhubungan erat dengan pendapatan per kapita masyarakat. Pendapatan per kapita masyarakat yang rendah mengakibatkan kemiskinan, dan angka kemiskinan yang tinggi berdampak pula kepada naiknya tingkat kejahatan. Tingkat kejahatan yang tinggi sudah sebarang tentu menganggu ketenteraman dan kedamaian di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Dalam perspektif kehidupan beragama khususnya agama Islam, kemiskinan dapat mengakibatkan seseorang itu menjadi kufur, yakni berpaling dari peringatan yang disampaikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada mereka, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Ahqaf ayat 3, yang artinya : “Dan orang-orang itu berpaling dari peringatan yang disampaikan kepada mereka”. Bahkan kemiskinan tersebut dapat pula menjadikan seseorang itu murtad, yakni keluar dari agama Islam.

Bapak Ibu yang saya hormati,

Agregat pertumbuhan ekonomi Indonesia beberapa tahun ini  terlihat kurang bagus. Pertumbuhan ekonomi yang rendah menurut saya merupakan salah satu indikator adanya kemacetan dalam pendistribusian pemerataan kehidupan ekonomi rakyat.

Kita berharap bahwa Pemerintahan 5 tahun kedepan dapat mengatasi masalah perekonomian Negara Indonesia terutama menaikkan pendapatan Negara khususnya yang bersumber dari ekspor. Disamping itu juga angka pengeluaran dan kerugian Negara perlu mendapat perhatian. Dalam hal ini saya menyoroti tentang kerugian Negara yang disebabkan oleh tingkah laku para Pejabat yang korupsi. Perbuatan korupsi ini menyebabkan kerugian bukan saja keuangan Negara akan tetapi juga merugikan kepentingan publik dan masyarakat luas.

Para undangan dan hadirin yang saya muliakan,

Hukum di Indonesia haruslah mencerminkan sifat keadilan, menjaga ketenteraman, kedamaian dalam kehidupan masyarakat dan dapat mensejahterakan rakyat. Kesejahteraan yang dibenarkan oleh hukum Islam adalah manfaat yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadist.

Oleh karena itu bagi para Pejabat Negara, para Pemimpin Negara dari mulai tingkat Perangkat Desa hingga Presiden, para anggota DPR tingkat Daerah hingga Pusat diharapkan dapat menciptakan dan menjalankan hukum di Negara kita ini sebagaimana mestinya.

              Janganlah merancang  Hukum ataupun menjalankan hukum dengan bersandarkan kepada hawa nafsu, untuk kepentingan pribadi, kelompok ataupun golongan. Jangan begitu ! Akan tetapi buatlah hukum dan menjalankan hukum itu bersandarkan kepada Allah, Tuhan yang menciptakan makhluk.  Sejatinya Hukum yang dibuat oleh Allah itu bersifat universal dan komprehensif. Didalamnya terkandung perintah-perintah Allah baik perintah yang bersifat menjalankan kebaikan serta perintah yang bersifat menjauhkan keburukan selama manusia itu menjalankan kehidupan di dunia serta mencari bekal untuk kehidupan di akhirat.

Hadirin yang berbahagia,

              Tingkah laku para pemangku jabatan di pemerintahan yang menyimpang dari norma-norma agama, tentunya berkaitan dengan masalah akhlak. Dalam Al-Qur’an dan Hadist, hukum-hukum tentang akhlak menitik beratkan pada pendidikan rohani dan pembersihan hati dari sifat-sifat tercela serta menghiasinya dengan sifat-sifat yang terpuji.

               Maka dalam kesempatan ini saya menghimbau,  wahai para pemangku jabatan baik di pemerintahan maupun di organisasi-organisasi  politik dan organisasi massa. Kembalilah  kepada tujuan utama yakni menegakkan tata masyarakat yang adil, berdasarkan etika, dan mampu memakmurkan para penghuni di bumi persada kita.  Sebab kalian sebagai individu yang memiliki akhlak tidak bisa lepas dengan masalah masyarakat.  

            Tidaklah  mungkin  dan tidak ada sebagai individu hidup tanpa masyarakat. Akhlak yang terbangun dalam diri individu, terdapat dominasi dalam lingkungan kehidupan sosial dimana individu tersebut berada.  Jika beranggapan bahwa konsep akhlak hanya terbatas pada kesadaran individual, sudah sebarang tentu akan mudah dimanipulasi oleh kekuatan di luar dirinya sendiri.

Bapak dan Ibu yang mulia dan dimuliakan Allah,

                Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya : “Barangsiapa diberi amanah oleh Allah untuk memimpin lalu ia mati, sedangkan pada hari kematiannya dalam keadaan mengkhianati amanahnya itu, niscaya Allah mengharamkan surga bagiannya”. (HR. Muslim).

                 Dari hadist tersebut jelas bahwa yang dimaksud dengan pemimpin bukanlah hanya Presiden, Menteri, Gubernur, Walikota, anggota DPR, Direktur Perusahaan, dan seterusnya, namun sampai strata sosial yang paling bawah. Seorang penjaga malam juga adalah pemimpin atas harta milik orang yang dijaganya, dan dia bertanggungjawab atas harta tersebut.

                Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan bertanggungjawab atas mereka semua. Demikian juga seorang wanita adalah pemimpin atas rumah dan harta suaminya serta anak-anaknya, dan dia bertanggungjawab atas mereka semua. Keluarga, isteri dan anak-anak, itu adalah amanah yang ada di pundak kita. Kita diperintahkan untuk menjaga dan menyelamatkan mereka dari api neraka, serta sabar dalam mendidik dan mengarahkan mereka agar menjadi hamba Allah yang sesungguhnya.

                 Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman dalam Al-Qur’an,  surat at-Tahrim ayat 6, yang artinya : “ Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka, yang bahan bakarnya dari manusia dan batu”.

                Tanamkanlah dalam diri kamu, bahwa akhlak yang baik bukan saja untuk kepentingan diri kamu sendiri khususnya hubungan kamu kepada Tuhan, akan tetapi juga berimbas kepada masyarakat sekeliling kamu, termasuk kepada keluarga dan anak-anak kamu. Ketahuilah oleh kamu, bahwa akhlak yang baik dapat menghindarkan seseorang itu daripada neraka sebaliknya akhlak yang buruk menyebabkan seseorang itu jauh dari surga. Jadikanlah diri kamu sebagai sebuah Lentera yang dapat menerangi sekeliling kamu.

Hadirin yang di Rahmati Allah,

             Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ibu para jamaah khususnya dan masyarakat umumnya yang telah turut berperan baik moril maupun materiil atas terlaksananya pembangunan-pembangunan di kompleks Alkah ini. Alhamdulillah pembangunan-pembangunan yang telah kami laksanakan setiap tahunnya berjalan lancar dan bermanfaat bagi kenyamanan para jamaah untuk beraktivitas seperti bersuluk, bertawajuh, dan sebagainya. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala membalas kebaikan Bapak Ibu dengan rezeki yang berlipat ganda baik untuk kehidupan di dunia maupun untuk kehidupan di akhirat kelak. Aamiin Ya Robal ‘Alamiin.

            Sebelum saya mengakhiri fatwa ini, beberapa pesan saya sampaikan kepada seluruh umat Islam khususnya dan rakyat Indonesia umumnya yaitu sebagai berikut :

  1. Berkata dan bertindak jujurlah kamu, niscaya kamu beruntung. Seorang yang jujur, akan bersemangat untuk menggapai cita-citanya tanpa tersentuh oleh ajakan-ajakan yang bathil. Janganlah kamu berbicara bohong, sebab kamu hanya memilik satu hati dalam ronggamu, bukan dua hati. Jika hati yang satu itu sudah penuh sesuatu, maka ia tidak akan mampu menampung yang lain lagi.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: “Allah sekali-kalli tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya”. (QS Al-Ahzab ayat 4).

Maka jadikanlah satu hati dalam diri kamu, hanya mutlak untuk Sang Pencipta.

  • Janganlah Kamu mencintai dunia tanpa akhirat. Dan janganlah kamu menjadi pecinta makhluk tanpa Sang Pencipta. Karena yang demikian itu berarti Kamu hanya takut pada kefakiran, dan hanya berharap pada kekayaan. Bahwa rezeki itu telah dibagi/ditentukan. Ia tidak bisa berlebih atau berkurang dari ketentuan. Juga tidak diserahkan dahulu atau kemudian. Kamu jangan ragu dengan jaminan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentang rezeki. Jika engkau berambisi mencari bagian rezeki yang tidak diperuntukkan bagimu, maka ambisimu ini telah menghalangimu untuk hadir bertemu Al-Mawla (seorang Mursyid), dan Penyaksi Kebajikan,  karena kamu takut kehilangan kesempatan untuk meraih keuntungan atas ambisimu itu.
  • Berhati-hatilah kamu wahai kaum muslimin, siapapun kamu, apapun pangkat dan jabatan kamu, apapun status kamu. Bahwa Jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala membukakan berbagai pintu rezeki dan berbagai sumber penghidupan berupa kedudukan, jabatan dan kehormatan sampai kamu terpedaya olehnya dan beranggapan bahwa diri kamu di atas segala-galanya, bisa jadi itu adalah cobaan yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada kamu.  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya : “Apabila kamu melihat bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan nikmat kepada hambanya yang selalu membuat maksiat atau durhaka, ketahuilah bahwa orang itu telah di istidrajkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala”. (HR Tabrani, Ahmad dan Baihaqi).
  • Kepada generasi muda Islam, raihlah pendidikan yang setinggi-tingginya dan ilmu yang sebanyak-banyaknya yakni ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan kalian di dunia dan di akhirat.  Ketahuilah bahwa Jika pada suatu Negara mempunyai sumber daya manusia yang sangat baik, terampil dan terlatih maka output yang akan dihasilkan memiliki kualitas tinggi. Sebaliknya jika Negara kekurangan akan sumber daya manusia terampil, bisa menghambat pada pertumbuhan ekonomi, sedangkan jika kelebihan akan sumber daya manusia atau tingginya tingkat pengangguran, hal ini akan tidak siqnifikan didalam pertumbuhan ekonomi.
  • Janganlah kamu menghina dan merendahkan seorang Mukmin, sebab rahasia-rahasia Allah Subhanahu Wa Ta’ala tertanam dalam diri mereka. Bersikap rendah dirilah dan jangan takabur di hadapan hamba-hamba Allah. Dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sudah memperingatkan yang artinya : “Takutlah terhadap firasat orang Mukmin, sebab ia melihat dengan cahaya Allah ‘Azza wa Jalla”.
  • Jangan kamu temani Ulama yang tidak mengamalkan ilmu mereka, sebab pertemanan kalian dengan mereka malah akan menjadi kesia-siaan bagi kalian. Jika kamu berteman dengan orang yang lebih ketaqwaan dan keilmuannya dari padamu, maka pertemanan kalian dengannya adalah barokah bagi kalian. Jika kamu berteman dengan orang yang hanya lebih tua darimu atau jabatannya lebih tinggi darimu, sedangkan Ia tanpa ketaqwaan dan keilmuan, maka pertemananmu dengannya hanya kesia-sian belaka.

Akhirnya sebagai penutup saya berpesan kepada seluruh umat Islam dimanapun berada. “Jangan pernah berperasangka yang bukan-bukan atas apa yang terjadi terhadap orang yang ada di sekitar kita dan di dalam diri kita. Harus kita yakini bahwa sesungguhnya yang ada dan terjadi, semuanya atas izin Allah. Dengan begitu diri kita akan menjadi pribadi yang tenang dan tenteram, tidak akan mudah terusik oleh setiap keadaan dan kejadian, yang datang pada diri kita dan pada diri orang di sekitar kita”.

Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tanjung Morawa, 1 Desember 2019
Thariqat Naqsyabandiyah Jabal Qubis,

Syekh H. Ghazali An Naqsyabandi.
Guru Mursyid